Falsafah manuk kuntul (burung bangau) memang jumbuh dengan kenyataan. Bila dilihat sekilas, burung bangau memang menakjubkan. Dia begitu hebat, kakinya yang panjang menambah wibawanya, bulunya yang putih bersih memperlihatkan kharismanya, dan sikapnya yang tenang seolah menunjukan kedalaman ilmunya (memang saudara2 manuk kuntul sekarang ilmunya hebat2 dan penampilanya juga meyakinkan).
Namun ternyata  semua itu hanyalah tipuan semata, semua itu hanya kemuna……yang dibungkus rapi. Burung burung itu pura pura tau dalam segala hal padahal bila ditanya ternyata hanya katanya (kalau tidak percaya coba deh tanya ama burung2 itu, he he he). Bersikap serba wibawa, tenang, tajam padahal sebetulnya ia hanya membangun kesan supaya terlihat arif dan bijaksana. Dengan cara cara yang dikemas sedemikian rupa, ia caplok mangsa mangsanya dengan serakah seoalah tanpa dosa (kasihan deh ikan ikan), sayang ikan ikan itu tak sadar bahwa didepan sang bangau mereka itu hanyalah mangsa untuk kemakmuranya. Inilah kebusukan si burung kuntul, yang kelihatan putih bulunya tapi tenyata merah dagingnya. Ratu Wahdat benar inilah jaman burung bangau, mereka berkeliaran di tengah kota dengan menawarkan surga, surga yang didalamnya banyak bidadari2 seperti kemauan mereka. Lebih baik jadi burung perkutut, walaupun sederhana wujudnya tapi banyak yang suka bahkan sang rajapun berkenan memelihara dan mau mendengarkan keindahan suaranya.
Maaf saya tidak mengarang, saya hanya mencoba menafsirkan isi kidung diatas.

#sumonggo…. Ngopiii meneh… :)

Iklan